Riausastra.com – Kudapati kata penghubung dalam tata bahasa di negeriku.
Kata-kata ini tentu saja memberi makna secara implisit dan eksplisit sehingga tak ada lagi makna-makna ambigu (makna ganda) di dalam suatu kalimat.

Kata penghubung itu antara lain:
dan, atau, tetapi, bahkan, karena, jika, agar, ketika, Walaupun, dll.

Setiap kata penghubung ini berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata serta kalimat dengan kalimat.
Oleh karena itu, setiap kata penghubung (konjungsi) memiliki makna masing-masing.

Di antara nyanyian hujan pagi yang diselingi dengan gemuruh suara petir, aku merasa ada irama tak beraturan dari percikan hujan.
Bisa jadi, jatuhnya air bening tersebut tidak serentak dan jatuh pada tempat yang berbeda pula.
Tidak bisa dipungkiri, air hujan akan jatuh di atap, di daun-daun, di sungai, di atas jembatan, dan ada juga yang langsung ke tanah.
Maha Besar Allah dengan segala rahmat-Nya..

Aku ingin mendeskripsikan perasaanku melalui sastra yang kuciptakan dari analisis beberapa konjungsi.

  • Dan (bermakna menggabungkan)
    Aku, dirimu, dirinya, dan kampus biru, Sastra USU.

Terima kasih Allah, tuk pertemuan yang telah “menggabungkan” jiwa kami dalam kebersamaan..

  • Atau (bermakna memilih)
    Kebersamaan tanpa masa depan atau perpisahan penuh cita, cerita, dan cinta?

Perpisahan ini membuat kita harus tega memilih jalan kita masing-masing demi sebuah asa bernama impian.

  • Tetapi (bermakna pertentangan)
    Sekalipun kita jauh, tetapi namamu masih melekat dalam doa rabithahku.

Ada pertentangan batin saat aku tak sempat memberi tahniah atas kesuksesanmu. Tak ada waktu untuk menghadiri hari-hari bahagiamu. Tak ada pertemuan lagi tuk saling menguatkan di saat salah seorang di antara kita sakit. Biarlah..
Meski hati menentang, toh persuaan dalam ruang dan waktu hanyalah milik Allah.
Kita doakan saja agar Allah mempertemukan kita di dunia dan berkumpul di jannah-Nya kelak..

  • Bahkan (bermakna menegaskan)
    Kadang aku tak hanya cemburu bahkan marah padamu saat masalah dan bahagiamu tak lagi kau bagi denganku, tapi kaubagi dengan yang lain.

Persahabatan bagiku begitu berarti. Maaf, Kawan, saat itu aku pernah marah padamu. Tak perlu kuulang lagi cerita itu. Aku hanya ingin menegaskan bahwa tabayyun itu adalah cara yang sangat indah tuk mencari kebenaran dari sebuah kabar burung agar tak pernah lagi ada prasangka buruk di antara kita, meskipun kita tetap saja bukan makhluk yang sempurna.

Kupenggal cerita ini, Kawan, karena tak banyak waktuku di pagi ini. Dapur telah menantiku tuk menunaikan jihadku. Nantikan ku di cerita selanjutnya ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here