Dulu..
Kita pernah menyamakan persepsi, menyatukan ideologi, dan mencari solusi atas ketidakseimbangan yang mendera di negeri ini.
Bukan tanpa alasan kita bertemu, berkumpul, dan menunjukkan aksi di hadapan khalayak.
Kita berbekal keimanan dan rasa cinta pada tanah air.
Oleh sebab itu, hal-hal yang merusak keutuhan persatuan dan kesatuan, kita selesaikan lewat sentuhan ekspresi diri kita sebagai mahasiswa yang notabenenya adalah sebagai “agent of change”.

Dulu…
Sejak menjadi mahasiswa USU, sikap idealis harus dan wajib lahir dari jiwa kita. Tak peduli seidealis apa nasib anak kos dengan segala dinamikanya. Tak pandang seidealis apa teori-teori mata kuliah mengakar dalam buah pikir dan keseharian kita. Bagi kita, bergerak dan turun ke jalan adalah pernyataan sikap demi sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.

Dulu..
Banyak sekali kenangan yang terukir dalam memori kita. Hingga kini, masih terasa bahwa inilah yang disebut dengan satu tubuh. Jika rakyat tersakiti dengan kebijakan yang ada, mahasiswa turut merasakan rasa sakit itu. Lantas, jalanan adalah ruang kita untuk menyuarakan aspirasi untuk menutup setiap luka dan berupaya agar tidak ada luka baru di masa yang akan datang.

Dulu…
Adalah masa lalu yang membuatku merindu. Apatah lagi melihat mahasiswa di zaman ini yang meneruskan aspirasi masyarakat dengan cara turun ke jalan. Meski isi hati tidak didengar. Meski suara orasi tidak diterima. Jangan menyerah dan melemah, duhai adik-adik mahasiswa. Setiap perbaikan memang butuh proses dan butuh waktu. Apalagi yang mesti diperbaiki itu adalah “struktur bangunan masalah-masalah” yang sudah hampir roboh. Tetap bahu-membahu karena negeri tercinta ini teramat berharga untuk disia-siakan.

Salam takzim buat seluruh mahasiswa Indonesia. Meski sejarah tak mencatat nama Anda dalam barisan nama para ksatria, semoga Allah mencatat nama Anda semua dalam kelompok amal jamai yang menyuarakan kebenaran.

Semangat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here