Foto: net

Riausastra.com – Sebuah judul novel karya Tere Liye memberi kesan mendalam buatku.
Novel ini dikemas dengan bahasa yang sangat ringan, namun beraroma sedap, dan melahirkan rasa yang gurih.
Begitulah kesanku pada karya Tere Liye dengan judul Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.

Tulisan ini bukan untuk mendeskripsikan atau meresensi atau mengapresiasi novel tersebut.
Hari ini, aku sedang tertarik dengan judul novel dan memberi ruang intertekstualitas yang baru bagi imajinasiku. Namun, kalimat eksotis ini menginspirasiku untuk menganalogikan daun tersebut lewat catatan sederhana ini.

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.
Daun merupakan sumber energi bagi sebatang pohon dan tumbuhan.
Dengan fitrahnya yang agung, dedaunan akan menjalankan fungsinya untuk berfotosintesis demi kelangsungan hidup sebatang tumbuhan dan sebatang pohon.
Energi yang dihasilkannya juga sebuah energi mahadahsyat berupa oksigen dan uap air.
Subhanallah, begitu agung Dzat yang menciptakan dedaunan.

Dedaunan ini ibarat seorang istri sejati.
Dapur adalah tempat yang membuatnya menjadi istimewa karena amanah dan pengorbanannya yang luar biasa.

Dari tangannya tersaji makanan untuk suami dan anak-anaknya.
Dari rahimnya terlahir anak-anak yang sehat sebagai penyejuk mata hati.
Dari jiwanya tersemat rasa bahagia saat melihat suami dan anak-anaknya menggenggam prestasi.

Istri sejati tak akan mengeluh, meski letihnya tak pernah dihargai dengan apapun.
Ia akan belajar ikhlas seikhlas daun yang jatuh dan akan selalu berusaha untuk tidak membenci angin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here