Foto: net

Riausastra.com – “Mari ngeteh, mari bicara”. Sebuah kalimat jargon dari iklan salah satu produk teh instan ini memberi sebuah inspirasi baru di pagi menjelang siang ini.

Teh biasanya disuguhkan untuk tamu, untuk menemani bersantai, atau saat menyambut hari selepas fajar menyingsing.
Mengapa harus dengan secangkir teh?
Bukankah di kafe atau tempat-tempat makan bisa menyediakan berbagai jenis minuman, seperti: jus, kopi, soft drink, susu, dan teh?

Benar, Sobat.
Hanya saja, teh memegang rekor terbaik dalam beberapa keunggulan berikut:
1. Teh hampir diterima di semua kalangan, baik anak-anak, remaja, bahkan orang tua.
2. Teh lebih gampang penyajiannya dibandingkan jenis minuman lainnya.
3. Ada cita rasa manis dan aroma yang segar dari kandungan teh sehingga memberi kesan istimewa di hati para penikmatnya.
4. Harganya yang murah dan mudah mendapatkan produknya di warung, swalayan, pasar tradisional, dll.

Itulah kelebihan dari secangkir teh.

Pada sebuah malam yang lebih sejuk dari biasanya, kudapati secangkir teh hangat yang disuguhkan saat aku bersilaturahim ke rumah salah seorang saudara.
Teh hangat yang disajikan oleh seorang asisten rumah tangga ini, tidak berbeda rasa dan aromanya dengan teh yang disedu dan disajikan di tempat lain.

Akan tetapi, ada kenikmatan yang hilang dari secangkir teh yang kusirup perlahan malam itu.
Meski cangkirnya bermotif cantik dan terbuat dari keramik pilihan, ternyata kesan mewah dari secangkir teh tersebut ta bisa mengusir penatku setelah hampir satu jam menunggu kedatangan sang tuan rumah, saudaraku tersebut.
Hilangnya kenikmatan cita dan rasa karena sang asisten yang menyediakan teh tak sepatah kata pun mempersilakan untuk meminum teh tersebut. Ditambah pula wajah si penyaji yang kusut masai. Cantik, namun tanpa senyuman. Namun, untuk mengusir jenuhku, tetap saja teh itu kuminum sedikit.

Akhirnya, saudaraku itu pun muncul dan mengajakku berbincang walau hanya beberapa menit saja karena memang ia tak banyak waktu.
Setelah urusanku usai, aku pun pamit.
Meninggalkan separuh cangkir teh yang tak lagi nikmat itu.

Pada malam berikutnya, aku berkunjung ke rumah saudaraku yang lain karena ada keperluan.
Meski aku harus tetap menunggu sampai satu jam, tiba-tiba ia datang dan meminta asistennya membuatkan teh untukku.
“Silakan diminum!” ujarnya diiringi segaris senyum.
Kuteguk air teh yang manis dan semakin manis rasanya karena kehadiranku disambut dengan cara yang manis pula.

Setelah urusanku usai, aku pun beranjak meninggalkan kesan manis saat pertemuan singkat tadi.

Ada dua hal yang ingin kubagi:
1. Secangkir teh bisa memberi kesan nikmat jika teh tersebut diminum di hadapan tuannya. Setelah dipersilakan tentunya.
2. Secangkir teh bisa menjadi pembuka pembicaraan agar lebih rileks dan terkesan lebih akrab.

Jadi, sungguh manis makna dari slogan iklan tersebut “mari ngeteh, mari bicara”.
Jangan abaikan pembicaraan walau hanya ditemani secangkir teh.
Bukankah kesan yang manis akan menghasilkan buah solusi yang manis juga?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here