Riausastra.com – Gelombang penolakan terhadap sejumlah Rancangan Undang-undang (RUU) berlangsung sejak Rabu, tanggal 25 September 2019. Aksi dilakukan oleh aliansi Mahasiswa se-Indonesia dan disusul oleh para pelajar STM (Sekolah Teknik Menengah).

Kehadiran para pelajar STM di tengah-tengah ricuhnya suasana aksi, menarik perhatian masyarakat yang melihat kejadian tersebut baik secara langsung, maupun tidak langsung. Kehadiran para pelajar STM seolah-olah membuka interpretasi masyarakat tentang keikutsertaan para pelajar STM dilatarbelakangi oleh kesadaran dalam berpolitik, atau hanya sebatas aksi ikut-ikutan. Terlepas dari motivasi para pelajar STM ikut serta dalam aksi besar-besaran di Jakarta tersebut, Penulis lebih tertarik pada tulisan-tulisan yang tertera pada isi poster yang dibawa oleh para peserta aksi, baik dari kalangan mahasiswa maupun kalangan pelajar.

a. Isi Poster Peserta Aksi     

Berbagai ragam kalimat tertera di setiap poster yang dibawa oleh peserta aksi. Isi dalam poster-poster tersebut  merupakan kesepakatan bersama yang berisi tentang ungkapan isi hati dan isi kepala para peserta aksi. Pada dasarnya, poster berisi tentang penolakan terhadap ketidakadilan yang dirasakan oleh rakyat terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh para wakil rakyat dan pemerintah. Oleh karena itu, isi poster-poster tersebut bertujuan untuk mewakili suara rakyat secara umum.

Akan tetapi, di luar poster-poster tersebut, terdapat beberapa poster yang agak nyeleneh. Kalimat-kalimat dalam poster tersebut menarik perhatian untuk  ditinjau ulang isi pesan yang ada dalamnya. Berikut isi dalam poster-poster tersebut:

  1. Entah apa yang merasukimu, DPR!
  2. Jangan matikan keadilan!! Matikan saja mantanku!!
  3. Negara tidak memfasilitasi rindu, tapi mencampuri urusan saat kita bertemu.
  4. Selangkangan bukan urusan pemerintah!
  5. Kalo seks bebas dipenjara, siapa yang kerja di gedung DPR?
  6. Jangan sahkan RUU KUHP, sahkan aja aku dengan dia!
  7. Cukup cintaku yang kandas, KPK jangan!
  8. Bibir dikulum pantat digrepe, Assalamualaikum tolak RUU KUHP!
  9. Zinahi saja aku!! Jangan zinahi negaraku!!
  10. Kelemahan KPK mengalahkan lemah syahwat pacarku!
  11. Pelajar juga butuh ngeue!

b. Makna Isi Poster

Kalimat-kalimat yang tertera di dalam poster yang dibawa para peserta aksi membuat perspektif literasi di negeri ini tercoreng. Hal ini tercermin dari isi pesan yang lebih menekankan pada nilai hiburan semata dan meniadakan nilai didaktisnya. Seperti pesan yang tergambar dalam poster nomor 2,3,6,7, dan 10 memberikan cerminan betapa rapuhnya jiwa sebagian pemuda karena tekanan perasaan. Perasaan rapuh ini juga tidak segan-segan diungkapkan ke ranah publik, meskipun niat sebagian pembuat poster hanya bergurau. Tidak tepat jika gurauan dicampuradukkan dengan suasana aksi sebesar dan seserius yang diperjuangkan oleh para Ketua BEM se-Indonesia tersebut. Justru sebaliknya, dalam sebuah perjuangan, seharusnya isi perasaan tidak boleh kalah dengan idealisme.

Selanjutnya, kalimat dalam poster nomor 1 terinspirasi dari lagu dangdut yang sedang viral dalam aplikasi tiktok. Kalimat di atas diadopsi dari mewabahnya hobi sebagian pemuda masa kini pada penggunaan aplikasi tiktok. Lewat aplikasi tersebut, banyak pemuda yang memasang lagu “Ntah apa yang merasukimu” dan bergaya di depan kamera, lalu mengunggahnya ke media sosial.

Era industri 4.0 banyak mencuri perhatian para pemuda di negeri ini sehingga kegiatan-kegiatan narsisme berupa swafoto, bermain game online, bermain media sosial, bergaya di aplikasi tiktok, dan lain-lain lebih melekat dalam keseharian sebagian dari para pemuda. Oleh sebab itu, keseharian ini tergambar dalam sebagian poster saat aksi tersebut.

Isi poster nomor 4,5,8,9, 10, dan 11 cukup menyayat hati. Bahasa yang digunakan oleh penulisnya sangat erotis dan sarkasme. Lebih tepatnya, bahasa ini bukan bahasa orang-orang terpelajar. Bahasa orang terpelajar sepantasnya mengenal batasan dan pilihan kata yang santun. Bahasa-bahasa dalam poster tersebut cukup liar dan memberi interpretasi bahwa sebagian peserta aksi (demo) terdiri dari orang-orang yang mendukung seks bebas. Apalagi kata “zinahi saja aku”, tersirat makna betapa rendahnya harga diri orang-orang yang sepakat dengan isi poster tersebut.

Ditambah lagi dengan poster terakhir yang berisikan “Pelajar juga butuh ngeue!”. “Ngeue” merupakan bahasa pasaran yang artinya “bersetubuh”. Kalimat dalam poster tersebut memberi kesan bahwa pelajar di negeri ini ingin bebas bersetubuh tanpa campur tangan pemerintah. Padahal, di dalam undang-undang tertulis bahwa yang boleh melakukan hubungan suami istri hanyalah pasangan yang sudah menikah.

Menanggapi isi poster-poster di atas, sangat disayangkan sekali “keberanian-keberanian” sebagian orang untuk ikut serta “merusak demokrasi” dengan sadar atau tidak sadar. Secara tidak langsung, mereka telah berkontribusi dalam merusak negara ini melalui isi pesan yang mereka tuliskan di dalam poster. Sudah berjuang seharian, bahkan ada beberapa pemuda yang bertaruh nyawa untuk memperjuangkan keadilan, namun dicemari oleh sebagian oknum dengan literasi-literasi liar yang tidak mendidik.

c. Peran Keluarga itu Penting

Setiap orang lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga. Benar bahwa sekolah pertama setiap orang berada di rumahnya dan guru terbaiknya adalah kedua orang tuanya. Permasalahannya, sudahkah setiap orang tua memahami tugas utamanya untuk mendidik anak-anaknya?

Para peserta aksi lahir dari setiap keluarga dan mendapatkan pola asuh dari orang tua masing-masing. Ketika berada di dalam ruang lingkup demonstrasi, setiap peserta aksi akan menunjukkan kepribadiannya masing-masing sesuai dengan motivasi mereka ketika mengikuti aksi.

Masyarakat sudah membaca isi poster-poster nyeleneh di atas, lantas mengambil kesimpulan bahwa pemilik poster tersebut biasanya sesuai dengan isi tulisannya. Maka, permasalahan ini adalah tugas bersama untuk sama-sama memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada.

Sudah seharusnya setiap orang tua mengajak anggota keluarganya untuk membangun hubungan yang spesial antara anggota keluarga dengan Sang Maha Esa. Anak-anak dididik sesuai fitrahnya dan sesuai ajaran yang telah Allah sampaikan lewat Kitab-Nya. Dengan demikian, akan lahirlah generasi-generasi unggulan.

Selanjutnya, di dalam setiap keluarga, kedua orang tua harus memberi contoh dan menerapkan kegiatan-kegiatan literasi, seperti membuat perpustakaan mini, lalu membuat jadwal wajib untuk membaca. Setelah itu, dilakukan kegiatan harian atau mingguan atau bulanan untuk menabung. Setelah uang terkumpul, dipersilakan membeli buku sesuai kesukaan masing-masing. Selain itu, saat rekreasi keluarga, maka perpustakaan menjadi salah satu tempat yang harus direkomendasikan. Dengan demikian, lambat laun, anggota keluarga akan mencintai buku. Dengan mencintai buku, lahirlah kegemaran membaca. Dengan gemar membaca, akan terinspirasi untuk menulis.

Peran pemerintah sangat penting dalam menangani permasalahan seputar literasi. Oleh karena itu, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia digalakkan gerakan literasi keluarga. Gerakan yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan menyediakan bahan bacaan yang berkualitas melalui buku dan buku elektronik di perpustakaan. Selain itu, dalam berbagai kesempatan, misalnya pada Peringatan Bulan Bahasa, diadakan motivasi-motivasi dan sarana-sarana lomba literasi untuk mewujudkan keluarga-keluarga yang sadar literasi.

Jika kegitan literasi di setiap keluarga bersinergi dengan kegiatan literasi yang digalakkan oleh pemerintah rutin dilakukan, maka akan lahir keluarga-keluarga yang merasakan manfaat dari membaca dan menulis. Kesibukan literasi tersebut akan mengurangi kesibukan generasi muda pada narsisme, kecanduan game online, serta bermedia sosial ria. Dengan demikian, kecintaan pada literasi akan menjadikan para generasi muda untuk lebih selektif dalam memilih kata, berhati-hati dalam ucapan dan ungkapan, serta meningkatkan kualitas diri.

Jika perbaikan-perbaikan literasi telah diterapkan dalam keluarga masing-masing, kegiatan literasi liar dan tidak terdidik akan hilang perlahan-lahan. Kalimat-kalimat yang keluar dari setiap lisan dan tulisan akan lebih tertata dan terkontrol. Apabila ada aksi di kemudian hari, akan lahirlah poster-poster berisi kata-kata bijak dan bernilai edukasi. Lalu, kegiatan aksi akan terkesan lebih elegan dan terhormat.

*Tulisan ini sudah dimuat di Bertuahpos.com pada tanggal 28 September 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here