Riausastra.com – Seorang lelaki separuh baya duduk sendirian di sebuah beranda. Tatapannya kosong, seolah-olah pikirannya melanglang buana menembus cakrawala. Jauh sekali. Wajahnya terlihat lebih tua dari usianya. Merenung, sesekali bibirnya bergerak. Ntah kata dan kalimat apa yang terucap dari mulut pucat itu.

Melihat pemandangan yang tak biasa ini, seorang pemuda bertubuh kurus tinggi melintas pelan di hadapan lelaki paruh baya. Tatapan itu tetap saja kosong. Lelaki paruh baya tak peduli dengan kehadiran lelaki kurus tinggi. Tanpa permisi, lelaki kurus tinggi duduk di sebelah lelaki paruh baya, masih dalam satu kursi yang sama. Hanya berjarak beberapa puluh senti.

Larut dalam diam membuat lelaki kurus tinggi mulai uring-uringan, salah tingkah. Sedangkan lelaki di sampingnya masih saja diam membeku. Fokus betul dengan alam sadarnya.

“Siapa namamu, Anak Muda?” tiba-tiba lelaki paruh baya mengangkat suara.

Dengan terkejut, lelaki kurus tinggi menjawab,”Eh, iya, Bang. Kaget aku, Bang. Namaku Hasian, Bang. Tepatnya Hasian Nadenggan Roha Sinaga.”

Dengan logat khas Batak, lelaki kurus tinggi menyebut lelaki paruh baya dengan sebutan “bang”. Seolah-olah lelaki paruh baya telah kenal lama dengannya.

Diam.

Untuk mengisi keheningan, Hasian membuka suara, “Abang tau arti namaku yang panjang dan keramat ini?”

Hasian bertanya dengan logat “e” kuat khas daerahnya.

Nggak,” singkat saja lelaki itu memberi jawaban.

Hasian artinya kesayangan, Nadenggan Roha artinya yang baik hati. berarti Hasian Nadenggan Roha, artinya Kesayangan yang Baik Hati. Kalau Sinaga itu, marga bapakku, Bang,” terang Hasian sambil mengenang masa silamnya mengingat masa kecilnya yang bahagia.

Hasian pun balik bertanya,”Maaf, Bang, nama Abang, siapa?” tanya Hasian.

“Namaku Agung,” lelaki paruh baya menjawab singkat masih dengan tatapan kosong.

Diam.

Tiba-tiba Agung berpaling menatap ke arah Hasian dan berucap, “Apa yang kau lakukan di sini, Ucok Sinaga?”

Masih dengan salah tingkah, Hasian menjawab,”Abang tau aja, aku ini anak Batak, hehehe” Hasian tersipu.

Lelaki paruh baya tak memberi komentar.

“Abang diam saja kutengok. Kenapa, Bang?” Hasian berusaha mencairkan suasana.

“Aku menyimpan sesuatu dalam benakku. Sesuatu yang hanya mampu kurasakan, namun tak mampu kusampaikan. Rasa ini bersemayam jauh di dasar hatiku. Seolah-olah, selalu mendera dan menyiksa hari-hariku,” ucap lelaki paruh baya.

Bah! Rasa apa itu, Bang?” Hasian menyerobot.

“Tunggu sejenak, Ucok! Aku belum selesai bicara!” Lelaki berwajah putih dan bertubuh padat itu protes ucapannya dipotong Hasian.

Sorry, Tulang,” refleks Hasian menjawab.

“Aku rindu pada suasana nun jauh di sana. Seperti halnya rindu, suasana di sana tak tampak di mataku, namun terasa hingga ke ulu hatiku. Aku rindu,” sambung Agung.

Tatapan Agung tampak kosong. Sudut matanya seperti bicara.

“Apa gunanya rindu, Bang Agung. Rindu hanya sebatas halusinasi saja. Percuma, buang tenaga, alam kita sudah berbeda” jawab Hasian.

“Engkau benar, Anak Muda!” Agung mulai pesimis.

“Ada korek api, Bang? Sudah lama aku tak berisap,” tanya Hasian.

“Dasar Kau, Anak Muda! Kurang apa lagi asap sebanyak ini? Di tempat kita duduk bersandar ini hanya terlihat Kau dan aku. Selebihnya asap menggenang!” suara Agung menanjak.

“Iya pulak, aku lupa. Mungkin aku sudah mulai pikun, Bang. Hahaha,” Hasian pura-pura berlagak lugu.

“Memang kurang ajar tukang bakar-bakar hutan ini, kan Bang? Tak ada otak! Tak datang kurasa orang itu waktu pembagian otak,”

Belum selesai Hasian mengutuk, Agung langsung angkat suara,”Jaga mulutmu, Anak Muda! Nggak usah merasa sok hebat di sini! Gayamu seakan-akan seperti seorang orator yang memprovokasi aksi kampungan di jalan-jalan raya!”

“Bah! Teringatnya, masa-masa aku mahasiswa dulu, sukak kali pun aku ikut-ikut demo. Enam tahun aku kuliah, tak kusisakan sikit pun peluang untuk tidak ikut demo. Bersuara lantang, macam pembela negara sejatilah, pokoknya,” ucap Hasian bertubi-tubi.

“Ternyata Engkau hebat juga, Anak Muda! Ada jiwa nasionalis juga dalam dirimu,” puji lelaki paruh baya dan membuat Hasian tersipu.

“Harus itu, Bang. Mahasiswa kan agen op cheng, Bang. Harus nasionalis!” jawab Hasian berbangga diri.

“Hmmm,” jawab Agung singkat.

“Tapi, Bang, kata mamak-ku, aku nggak hebat. Aku malah bikin pusing kepala mamak-ku. Sekarang menyesal kali aku, bah,” lelaki kurus tinggi merenung.

Tanpa dipinta, lelaki berdarah Batak itu kembali meneruskan ceritanya.

“Bang, ingat kali aku sama nyanyi ini, dengarkan sikit ya, Bang,” lelaki itu pun bernyanyi dengan merdunya menirukan Charles Hutabarat.

Ho do anakku, urat ni ate-atekki
Ho do anakku, tappuk ni pusuk-pusukki
Burju-burju maho, namarsikolai
Asa dapot ho nasitta ni rohami

Mamak-ku dulu sering kali nyanyikan lagu ini, Bang. Artinya kayak gini:

Engkaulah anakku, buah hatiku
Engkaulah anakku, harapan jiwaku
Baek-baeklah kau yang sekolah itu
Supaya tercapai yang diinginkan hatimu

Hasian menunduk dan menutup wajahnya. Sejenak hening. Air bening menetes perlahan dari sudut matanya.

“Luar biasa sekali petuah ibumu. Ibumu pasti ibu yang luar biasa. Lantas, kenapa Kau sampai ke mari, Ucok?” tanya Agung seakan ia mengerti ada rasa mendalam bernama penyesalan yang tak mampu terbenahi lagi dari diri lelaki di sampingnya tersebut.

“Aku menghabiskan hari-hariku di sebuah organisasi. Kupikir, dapat kawan plus dapat rokok sudah lebih dari cukup. Kongkow-kongkow sama kawan-kawanku. Agak-agak petentenganlah sikit kalau ada demonstrasi. Habis demo sering juga dikasih makan sama rokok gratis. Sebetulnya ada juga organisasi lain yang pernah kuikuti, Bang Agung. Tapi, kurang sreg aku. Banyak kali waktunya ke mesjid. Harus rajin belajar. Kalau demo, nggak boleh sukak ati, bakar-bakar, dan begaduh.  Tak sor kali kurasa. Udah capek demo nggak pernah dikasih-kasih orang rokok sama nasi bungkus. Kan capek yang demo itu, Bang. Kata orang itu, demo ini bagian dari mencegah kemungkaran, jadi tak perlu dibayar dengan apapun. Insya Allah akan jadi bekal ke syurga. Begitu prinsip organisasi lain itu kudengar. Paten kalilah pokoknya,” papar Hasian panjang lebar.

“Terus?” Tanya Bang Agung penasaran dengan kelanjutan isi cerita lelaki berdarah Batak itu.

“Padahal kan, Bang, ingat kali aku pesan mamak-ku lewat nyanyian yang tadi kunyanyikan. Mamak-ku pengen kali aku sukses kayak istilah orang Batak ‘Biar kambing di kampung sendiri, asalkan kerbau di perantauan’. Tapi, semua kusia-siakan. Aku sibuk cari kesenanganku aja. Menyesal kali aku, bah!” lanjutnya.

“Kasihan sekali ibumu, Hasian,” timpal Agung.

Kembali lelaki kurus tinggi itu mengusap air matanya yang mengalir satu-satu.

“Lantas, kenapa Kau sampai ke sini?” kembali lelaki separuh baya itu mengulang pertanyaannya.

“Aku di drop out dari kampus. Sudah enam tahun, skripsiku tak siap-siap. Aku asyik demo dan kongkow-kongkow aja sama kawan-kawanku. Saat mendengar aku DO, mamak-ku jatuh sakit di kampung. Waktu mau pulang ke kampung, kukemasi barang-barangku. Orang pulang bawak ijazah. Aku pulang bawak surat DO sambil naek kereta (motor). Jalanan yang rame dan bekelok-kelok ini, kusangka sunyi, Bang Agung. Tak ada lagi yang ada di otakku selain mukak sedih mamak­-ku. Udah siteres kali aku, belum sampai ke kampung, akhirnya aku jatuh dari kereta karena kutabrak pembatas jalan itu. Mampuslah,” kisahnya.

Diam. Sejenak hening. Keduanya asyik dengan pikiran masing-masing.

“Terus, kenapa pulak-lah Abang sampai ke sini? Ini kan tempat yang bikin banyak orang takut melaluinya, seperti Aku dulu,” giliran Hasian yang balik bertanya kepada lelaki paruh baya.

“Aku punya kisah yang tak jauh beda dengan kisahmu, Anak Muda,” jawab lelaki berkulit bening itu.

“Ooo, berarti Bapak dulunya suka demon-demon kayak aku ini ya?” celoteh Hasian tanpa dipinta.

“Bukan,” sanggah Agung singkat.

“Jadi?” tanya Hasian penasaran.

“Jika dulunya Anda suka mendemo orang lain, tetapi aku adalah orang yang sering didemo,” lanjut Agung menambah penasaran Hasian.

“Hahaha. Kapok aku, Bang. Jangan-jangan, Abang dulu orang yang pernah kudemo,” balas Hasian seperti menemukan secercah cahaya matahari di antara kabut asap sebab merasa punya teman senasib, meski berbeda alur cerita.

“Aku mengawali seluruh karirku karena sebuah alasan bernama cinta. Aku sangat mencintai istriku, anakku, kesibukanku, dan teman-temanku. Karena motivasi ingin membahagiakan orang-orang disekelilingku, aku berjuang keras agar menjadi orang kaya dan sukses. Kesuksesan kulalui setahap demi setahap. Punya mobil mewah, rumah bak istana, kebun-kebun sawit yang luas, anak yang bersekolah di sekolah internasional membuatku merasa selalu di atas angin,” urai lelaki itu sambil mengusap wajahnya sambil memikirkan sesuatu yang teramat dalam sepertinya.

Hasian masih terdiam. Setia menanti kelanjutan cerita Agung.

“Meski bergelimang harta, istriku sering mengingatkanku agar hati-hati dengan penyakit wahn alias‘cinta dunia’,” sambung Agung.

Hasian mencerna kata demi kata yang diucapkan oleh Agung.

“Perempuanku adalah perempuan berhati mutiara. Bening. Kekayaan tak pernah membuat matanya silau. Ia tetap dalam kerendahan hatinya serta kedermawanannya. Ia wanita yang salihah, namun aku tak pernah mengindahkan nasihatnya,” sambung Agung.

“Abang kan sudah si sini. Jadi, kebun-kebun sawit Abang sama siapa sekarang? Jadi konglomeratlah orang itu ya, Bang?” tanya Hasian dengan polosnya.

“Tidak ada yang punya, Anak Muda,” jawab Agung singkat.

Makjaaang, sayang kali ya. Coba kalau aku jadi ahli waris Abang, senang kalilah ati aku. Orang kaya, Man!” celetuk Hasian.

“Menjadi orang kaya tak seindah yang dibayangkan banyak orang. Ketika Aku mendapatkan sejengkal demi sejengkal harta, aku malah bukan semakin tenang. Justru semakin besar keinginan untuk memiliki yang lebih dan lebih lagi. Mungkin itulah yang disebut istriku dengan ‘wahn’. Laksana meminum air garam, semakin diminum akan semakin haus. Aku dulu tak peduli dengan tangisan masyarakat. Tentang cerita orang-orang yang mati karena menghirup asap pekat berbulan-bulan. Tentang sekolah-sekolah  yang  hampir seperti gedung-gedung mati tak berpenghuni. Aku tetap tidak peduli. Lahan-lahan kosong akan membuat mataku hijau. Dengan mudahnya, lahan-lahan kosong itu kubakar dan kutanami pohon-pohon emas bernama sawit. Bagiku, di alam ini hanya berlaku hukum rimba. Siapa kaya, dialah penguasa,” papar Agung.

“Kurang ajar Kau, Bang! Waktu hidup, Aku mati-matian demo tentang asap ini. Rupanya Abang pelakunya!!!” Hasian marah dan berdiri dari tempat duduknya. Seakan-akan ia ingin menampar lelaki separuh baya di hadapannya. Dadanya bergemuruh naik turun.

“Salahmu juga, Anak Muda! Demo jalan terus, tapi giliran dikasi makan, mulut Anda terkunci kan?” balas Agung menahan diri.

Hasian terdiam dan langsung duduk kembali. Ia merasa tertohok.

“Sudahlah Hasian, tak perlu Kau adili aku lagi. Kesenangan yang kumiliki semasa hidupku telah kubayar kontan dengan rasa sakit yang kualami. Kepongahanku bagai bumerang yang telah menghunusku. Kabut asap telah merampas kebahagiaanku. Istriku, wanita yang sangat kusayangi ternyata terkena kanker paru-paru. Padahal rumahku sangatlah safety, tentunya akan terbebas dari asap. Namun, Allah pun memanggilnya dua bulan yang lalu. Anak semata wayangku yang kuharapkan menjadi orang hebat di kemudian hari, ternyata pecandu narkotika karena aku tak pernah memberinya perhatian dan cinta. Masa depannya sirna. Pusat rehabilitasi telah menggantikan posisi sekolah internasional miliknya. Aku benar-benat telah kolaps. Aku kehilangan dua orang yang sangat kucintai. Detik ini, yang tersisa hanya sebuah kerinduan. Rindu yang takkan mungkin menemui penawarnya lagi. Aku merindukan mereka, sungguh,” Agung terisak lalu sesenggukan.

“Aku yang dahulu bebas tertawa karena dengan mudahnya kudapatkan apapun yang kuinginkan. Aku tak sadar, ternyata kesenanganku telah merampas kebahagiaan orang banyak. Setelah istriku dan anakku meninggal dunia, perusahaanku mulai didemo oleh masyarakat karena salah satu perusahaan yang turut menabur asap. Bahkan lahan-lahan sawit milikku masuk pada perkara hukum. Saham-saham yang kutanam mulai berguguran satu-satu. Seluruh hartaku disita. Tak kuat dengan balasan yang kuterima atas kerakusanku pada dunia, dua hari yang lalu jantung koroner menyerangku. Allah pun memanggilku dengan rasa sakit yang tak mampu kulukiskan. Dan pada akhirnya, aku bertemu denganmu di sini dan masih dalam suasana berasap seperti ini. Semesta ini masih dipenuhi asap tebal,” urai lelaki berwajah oval dengan menyiratkan penyesalan yang amat dalam.

Lelaki separuh baya masih ingin meneruskan ceritanya,”Satu hal yang paling menusuk hatiku. Saat itu, aku mendapat kabar bahwa anakku telah sakau di kamar asrama sekolah internasional. Aku melihat wajah tampannya berubah sangar dan matanya sayu sekali. Ia menggigil. Aku meraih tangannya. Ada secarik kertas yang ia genggam dengan kuatnya. Perlahan kuambil kertas itu. Aku tersentak. Di kertas itu terdapat tulisan ‘Ayah, aku merindukanmu..!’. Betapa remuknya hatiku. Aku pikir, harta yang kupersembahkan untuknya telah mampu mewakili kehadiranku dalam hari-harinya. Aku salah. Sampai sesekarat itu, ternyata anakku masih menyimpan kerinduan untukku.”

Agung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangisi masa lalunya yang telah menjelma menjadi senja.

“Inilah tempat bertemu kita. Tempat setiap kita akan bersiap-siap memaparkan jawaban ketika akan ditanyai oleh para penjaga kubur. Rinduku untuk memulai hari-hari berbalut taubat, sirnalah sudah,” Sambung Agung.

Lelaki kurus tinggi hanya larut dalam diam. Ia dengarkan semua cerita Agung. Dalam benaknya juga terurai lembaran-lembaran luka bernama penyesalan. Ia teringat dengan perempuan yang telah berjuang untuknya. Perempuan yang membesarkannya dengan cinta.

“Apa kabar mamak-ku, ya Allah?” batinnya.

Ketika mereka asyik dalam  lamunan, sebenarnya senja telah berlalu dan senja telah menutup hari. Tiba-tiba angin kencang. Petir menyambar-nyambar. Hujan mengguyur bumi dengan derasnya. Badai. Keduanya terbelalak. Di hadapan mereka telah hadir dua sosok misterius membawa butir-butir pertanyaan dan sebilah cambuk raksasa. Mereka menggigil hebat. Urat leher mereka memekikkan takbir, mengharap pertolongan Allah, “Allahu Akbar…!!!” Berkali-kali demi menyembunyikan ketakutan. Yang terlihat hanyalah sepetak tanah berlubang  yang masih merah. Basah diguyur hujan.

****

*Cerpen ini dimuat di Koran Riau Pos pada tanggal 29 September 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here