Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan dan kelebihan dalam suatu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan (Kartini, 1994:33). Sesuai dengan defininisi di atas, seorang pemimpin tidak berpatokan pada para pejabat atau petinggi di suatu lembaga pemerintahan saja. Pemimpin bisa berada dalam kelompok manapun dan setiap orang memiliki hak untuk menjadi pemimpin asalkan seseorang tersebut memiliki keahlian di bidang yang dipimpinnya serta mampu mempengaruhi orang lain demi sebuah tujuan tertentu.

Sesuai dengan judul, tulisan ini bertujuan untuk memaparkan arti penting dari sebuah retorika yang wajib dimiliki atau dikuasai oleh setiap pemimpin. Jika setiap manusia adalah pemimpin, maka setiap orang layak menguasai teknik beretorika.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, retorika adalah keterampilan berbahasa, studi tentang pemakaian bahasa secara efektif, dan seni berpidato yang bombastis. Berdasarkan uraian di atas, seni retorika merupakan seni berbahasa, khususnya dalam keterampilan berbicara. Keterampilan ini tidak terlepas dari penggunaan kalimat efektif dan adanya style si pembicara yang membuat isi pidato yang ia sampaikan memiliki kualitas sehingga kesan dan isi pidato atau pembicaraan tersebut mengena di benak para pendengarnya.

Setiap pemimpin, baik dalam skala besar maupun dalam skala kecil, wajib menguasai retorika. Mulai dari pemimpin rapat, pemimpin kelompok, pemimpin daerah, pemimpin wilayah, sampai pemimpin negara seyogyanya memiliki gaya bicara yang retoris. Bukankah setiap pemimpin akan selalu memiliki kesempatan bahkan kewajiban untuk berbicara di hadapan orang yang dipimpinnya? Alangkah lucu jika seorang pemimpin yang telah diamanahkan memimpin suatu kelompok, namun untuk hal berbicara saja tidak bisa menghasilkan perkataan yang berkualitas. Hal ini sudah menjadi realita, khusunya di negeri ini. Banyak pemimpin yang mengabaikan retorika. Alhasil, di saat pemimpin mulai berbicara, pendengar pun mulai kasak-kusuk karena jenuh, tidak paham dengan yang disampaikan pembicara, bahkan  pendengar bosan dengan gaya si pembicara yang terlalu tegang dan monoton. Pendengar tidak bisa disalahkan karena setiap orang berhak mendengarkan sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.

Lewat tulisan sederhana ini, perlu rasanya menyampaikan bahwa layak tidaknya seseorang jadi pemimpin, salah satu kriteria kelulusannya adalah “wajib menguasai retorika berbicara”.  Keterampilan berbicara ini tidaklah sulit. Bisa diasah dengan kemauan yang kuat untuk belajar membenahi perbendaharaan kata, belajar untuk mengekspresikan wajah dan bahasa tubuh, belajar untuk menggunakan contoh yang unik dan menarik, belajar untuk membangun komunikasi dua arah yang baik dengan pendengar, tidak bertele-tele dan isi pembicaraan harus singkat dan jelas, belajar untuk tidak terikat dengan teks, serta berbicaralah dengan santai dan tenang. Beberapa pembelajaran di atas akan mampu meningkatkan mutu retorika sehingga saat berbicara, ada kesan yang tertinggal di benak para pendengar.

Menurut penulis, seni beretorika ini tak ubahnya sebuah durian. Meskipun tidak semua orang menyukai buah ini, namun sebagian besar orang sangat menikmati kesan dari buah berduri ini. Bentuknya yang kurang “keren” bukanlah penghalang bagi penikmatnya untuk tetap berburu buah ini di musimnya. Durian mampu menebar aroma yang seksi. Belum disentuh saja, penikmatnya sudah mampu membayangkan lezatnya isi durian. Tidak heran jika aroma tajamnya melahirkan rasa tidak sabar untuk segera melahapnya. Setelah isi buahnya disantap habis, kesan durian belum juga habis. Kenikmatan akan aroma dan rasanya masih melekat di ingatan para penikmatnya. Tidak heran jika tingkat kepuasan itu tercipta. Seandainya buah durian telah kehabisan musim, para penikmatnya masih tetap mampu membayangkan kesan buah durian sampai tiba musim durian selanjutnya.

Begitu jugalah seni retorika dalam berbicara. Alangkah hebatnya jika seorang pembicara, khususnya pemimpin, mampu meninggalkan kesan istimewa kepada para pendengarnya agar amanah, pesan, dan informasi yang disampaikan tersebut akan selamanya tersimpan di hati para pendengar dan selalu terngiang di ingatan. Selayaknya para pemimpin mengindahkan seni beretorika agar pesan yang ingin disampaikan para pemimpin tersebut selalu ditunggu-tunggu sepertihalnya musim durian yang nikmatnya tetap awet hingga ke musim durian berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here