Ikan asin tahu tempe
Hari-hari hoi
Daun ubi sayur kangkung 
Hari-hari hoi…

Sebuah syair unik menyita perhatianku. Berulang-ulang kudengar dan kudengar kembali syair yang mulai akrab di telingaku itu. Syair yang lucu. Sempat membuat bibirku menorehkan sebuah senyum pertanda geli. Setelah kucermati lebih dalam, ternyata syair lagu Batak ini memberi makna tersirat akan nasib rakyat dengan adanya pergantian pemimpin di negeri tercinta ini. Berulang dalam sekali lima tahun. Pesta rakyat yang menghabiskan triliunan uang negara itu, lebih sering mengantarkan nasib rakyat pada kesengsaraan. Oleh karena itu, ikan asin, tahu, tempe, daun ubi, dan sayur kangkung menjadi ikon dari kemelaratan rakyat karena tak ada lauk yang sanggup terbeli selain keempat lauk di atas.

Pokak, pokak, pokak talingo
Bodo, bodo, mambodo jadinyo…

Begitulah lanjutan dari syair yang sempat menggelitik naluriku ini. Apa iya, sayur kangkung dan kawan-kawan bisa menjadi pemicu pekaknya telinga? Apa iya, sayur kangkung dan kawan-kawan bisa memberikan efek bodoh buat konsumen rutinnya? Menurutku, belum tentu, Kawan. Lihat dan pandanglah aku. Aku bersama rekan-rekan seperjuanganku dulu adalah bagian dari konsumen sayur kangkung. Jika ada efek pekak dan bodoh pada pribadiku dan rekan-rekan seperjuanganku, aku rasa, gelar sarjana tidak segampang ini kami sandang. Betul tidak, Kawan? Apa memang iya….? Auk, ah, gelap!

Aku merupakan salah seorang yang beruntung karena diberi kesempatan untuk mengecap pendidikan SMP hingga SMA di sebuah sekolah yang lebih akrab kami sebut dengan “Penjara Suci” Nurul Ilmi pada tahun 1999-2005. Gedung berwarna hijau teduh, khas Nurul Ilmi, berdiri tegak di bumi Kota Salak, Padangsidimpuan. Sekolah dengan visi misi untuk melahirkan anak bangsa yang berimtak dan beriptek ini, telah meluluskan beberapa alumni dengan predikat siswa-siswa berprestasi. Manajemen di sekolah ini memang luar biasa, Kawan.

Keelokan dan kemegahan yang ditawarkan oleh tampilan gedung, ternyata tak seelok dan semegah system dan fasilitas yang dimiliki oleh sekolah bertaraf unggulan ini. Hari-hari yang kami lalui tidak terlepas dari tarbiyah kesyukuran, tarbiyah kemandirian, serta tarbiyah kejuhudan. Bukan main, Kawan. Sekalipun siswa-siswa yang lulus seleksi di sekolah ini ada yang berasal dari latar belakang keluarga berada, berpenampilan cantik/ganteng, cerdas, maupun soleh/solehah, setiap siswa tetap harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan asrama. Jika tak mampu bertahan dan bersaing, maka tidak jarang akan selalu ada siswa yang droop out (DO). Tereliminasi oleh waktu.

Seperti halnya hari ini. Aku terbangun dari tidurku. Segera kukenakan jilbab dan beranjak ke kamar mandi asrama untuk mengambil peralatan mandi. Kulirik jam. Pukul 03.00 WIB. Dalam bayanganku, air di bak berukuran kira-kira 1x10x1meter itu akan terisi penuh. Lalu, aku akan bisa menikmati banyaknya debit air untuk keperluan mencuci dan mandi sekaligus untuk berwudhu. Apalagi masih terlalu pagi. Tentu saja kamar mandi masih sangat sunyi. Tanpa ragu, kulangkahkan kaki menuju kamar mandi umum yang letaknya berada di balakang asrama puteri di saat para penghuni asrama masih terlelap.

Betapa terkejutnya diriku. Bayanganku meleset jauh.
“Oalah… ramainya…,” gumamku.

Sekalipun kamar mandi umum itu tidak dilengkapi dengan cahaya lampu, aku tahu dari berjibunnya sandal jepit di tangga kamar mandi, bahwa kamar mandi ini telah sangat padat oleh para penghuni ruangan lain yang punya niat yang sama denganku, mandi, mencuci, dan wudhu.

“Kak, air nggak hidup ya, Kak?” tanyaku pada seorang kakak yang keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan rutinitasnya.

“Tadi hidup, Dek. Tapi, banyak yang bangun lebih awal makanya air cepat sekali habisnya. Masih ada yang nampung air tuch. Tapi mereka kan gengnya toke air. Satu orang yang nampung, tapi embernya puluhan. Biasa, mereka kan setiap harinya gantian nampung. Satu untuk semua. Kalau sudah salah seorang saja yang menguasai air di selang, sabar ajalah nunggu dia dan gengnya selesai nampung,” papar si kakak dengan jelas dan panjang lebar. Lalu, wanita berkulit hitam manis itu pun berlalu dari hadapanku.

“Hmmmm.. kayaknya solusi terbaik biar nggak buang waktu adalah mengandalkan suko alias sumur korek-korek,” bisik batinku.

Sumur korek-korek adalah sumur alternative di sekolah ini karena air tanah di daerah ini sangat minim. Sumur yang dalamnya hanya berkisar delapan meter ini merupakan sumber kehidupan bagi para siswa penghuni asrama puteri Nurul Ilmi. Sejarah sumur ini digali saat angkatan pertama Nurul Ilmi menginjakkan kaki di sekolah yang terletak di Jalan Silandit nomor 5 ini. Awalnya sumur ini hanya sebuah sumur biasa dengan air yang berwarna agak gelap. Semakin banyak siswa puteri yang menimba di sumur ini, maka semakin sedikitlah air yang tersedia di dalamnya. Karena merasa tidak sabaran mengantri dan ada juga yang tidak mau meminjamkan timba atau talinya ke orang lain, maka timbullah inisiatif dari para siswa puteri untuk menjebol dinding kayu pembatas sumur. Akhirnya, air di dalam sumur itu bisa diambil secara langsung dengan menggunakan ember bertuliskan nama masing-masing. Bukan main.

Akan tetapi, Kawan. Karena air tanah di sumur ini sangat sedikit, tidak jarang air yang tersedia pun akhirnya mulai kandas dan tidak bisa diraih lagi menggunakan ember. Maka timbullah sebuah ide baru untuk meletakkan tangga kayu di dasar sumur. Ketika airnya sudah tak dapat diraih pakai tangan, maka boleh turun ke sumur untuk mengambil secara langsung. Semakin siang, maka air pun semakin minim. Warnanya pun akan berubah menjadi coklat susu karena terus-menerus dikuras atau dikorek hingga sampai ke dasar sumur. Jadilah nama indah tersemat untuk sumur yang penuh kenangan ini dengan nama suko atau sumur korek-korek.


“Teng..teng..teng..teng..teng..,” suara piring batu ditabok dengan sendok mengagetkan seluruh penghuni asrama Muthiah diiringi dengan teriakan khas piket nasi, “Muthiah…., makan…!”. 
Begitulah rutinitas penghuni asrama setiap hari. Asrama puteri terdiri atas dua, yaitu Asrama Atiqah dan Asrama Muthiah. Sedangkan asrama putera terdiri atas Abu Bakar, Umar, dan Usman. Setiap asrama berlantai dua ini menyediakan empat ruang kamar yang dihuni oleh dua puluh orang setiap kamar. Oleh karena itu, setiap ruangan diberi nama Atiqah 1, Atiqah 2, dan seterusnya.

Seluruh penghuni asrama, baik yang sedang berada di kamar mandi, di sumur, di taman asrama, maupun yang berada di dalam ruangan masing-masing akan segera bergegas menuju ruang makan untuk mengambil jatah makan masing-masing. Jika telat hadir, maka siap-siaplah untuk menerima hukuman dari Seksi Konsumsi yang diberi amanah mengatur sistem dan peraturan saat jam makan. Begitulah disiplin yang dibangun di sekolah ini demi terwujudnya muslim-muslimah berkualitas.

Kebetulan menu siang ini adalah sayur kangkung rebus plus ikan asin dan sepotong tempe berukuran jumbo. Banyak wajah yang merengut saat melihat sayur kangkung rebus tanpa bawang goreng teronggok di piring masing-masing. Suka atau tidak suka, setiap jatah yang sudah tersedia wajib dihabiskan.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh,” ucap salah seorang petugas piket memulai prosesi acara makan bersama yang diawali dengan doa bersama.

“Wa’alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh,” jawab seluruh penghuni ruang makan dengan penuh semangat. Aku kurang tau persis makna semangat yang terpancar di siang yang terik itu. Apakah efek dari lapar berat atau karena malas mengulang salam untuk yang kedua kalinya sebab kakak-kakak dari Seksi Konsumsi akan menyuruh salam diulang jika tidak dijawab dengan semangat.

“Sebelum makan, marilah kita membaca doa bersama,” lanjut pemimpin doa menuntun keseluruhan untuk membaca doa makan. Doa makan pun usai.

“ Duh, kangkung…,” bisik salah seorang kawanku.
“Ngukngak!” celoteh yang lain.
“Stststtt..,” kode yang lain menengahi.
“Kenapa, Dek? Koq ribut-ribut?” akhirnya salah seorang Seksi Konsumsi angkat bicara.

Tiba-tiba semua hening dan pura-pura menyantap makanan masing-masing.

“Ada apa, Rina? Kamu nggak suka dengan sayur kangkung, ya? Kamu keberatan ya dengan lauk hari ini?” lanjut Kak Dian, salah seorang gadis kelas dua SMA yang diamanahkan memegang jabatan sebagai Ketua Seksi Konsumsi. Gadis berkerudung putih itu pasang wajah serius melihat ada yang tidak beres di ruang makan ini.

Gadis bernama Rina pun sewot. Wajah beningnya berubah menjadi masam karena ditegur secara langsung atas ulahnya barusan.

“Ya, Kak. Saya nggak suka sayur kangkung yang dimasak di Nurul Ilmi, Kak. Nggak ada rasa kecuali rasa air dan garam doang,” ujar Rina mengaku jujur.

“Ya sudah, semua, silakan lanjutkan makan siangnya. Setelah doa makan nanti, jangan bubar dulu,” pinta Kak Dian.

Selepas doa setelah makan usai, Kak Dian pun mulai berkomentar. Gadis bermata bulat itu memang tegas. “Adik-Adik, Kakak-Kaka k, dan Teman-Teman yang Saya sayangi, kita disekolahkan di sini berarti orang tua kita sudah mengamanahkan kita kepada yayasan. Apapun yang disediakan oleh pihak yayasan seharusnya kita syukuri. Lihatlah, belum tentu orang lain seberuntung kita. Jangankan sayur kangkung, nasi putih pakai garam pun akan dilahap habis oleh mereka. Belum lagi saudara-saudara kita yang berada di daerah bencana dan di daerah peperangan. Jangankan untuk makan, air minum saja tak bisa membasuh dahaga mereka. Ya, kan?” panjang lebar wanita berkerudung panjang itu memberikan motivasi dan taujih.

“Ya, Kak…,” serentak penghuni Asrama Muthiah mengiyakan.
“Sebaiknya kita banyak instropeksi diri agar Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya untuk kita,” lanjut beliau menyudahi taujih singkatnya.

“Siapa yang masih tersisa nasi dan lauk di piringnya? Ayo, ngaku!” lanjut Kak Dian.

Beberapa orang menunjuk tangan menyatakan menu sayur kangkung adalah menu yang menjemukan bagi para penghuni “Penjara Suci” ini.

“Ada lima orang. Silakan melapor ke petugas piket nasi hari ini. Bagi yang piket nasi hari ini, silakan berikan iqab untuk lima orang ini. Terserah mau ngepel, cuci piring, nyusun sandal yang berantakan di teras asrama, atau hukuman lainnya agar kita tetap disiplin,” perintah gadis yang dipanggil Kak Dian itu.

Seusai beliau mengamanahkan sanksi kepada petugas piket nasi untuk memberikan hukuman kepada lima orang yang melanggar peraturan tersebut, acara makan siang pun segera dibubarkan.


“Maaf, Mbak, mau pesan apa ya, Mbak?” seorang wanita berpakaian hitam putih dengan rambut disanggul rapi mengagetkanku dari lamunanku.

Aku tergopoh,”O, ya. Maaf,” ucapku salah tingkah sembari memberinya segaris senyum menutupi rasa maluku.

“Saya pesan cah kangkung plus nasi ayam bakar satu porsi,” lanjutku tersipu.

Aku ketahuan sedang bengong memikirkan tragedi sayur kangkung ketika aku duduk di bangku SMP-SMA dulu. Saat sedang istirahat makan siang, aku yang sedang menunggu sahabatku di warung makan yang terletak di Kampusku ini, membuatku terhenyak seketika. Alam pikirku terimpuls untuk fokus pada menu cah kangkung di antara deretan daftar menu yang ada.

“Sayur kangkung, sayur kangkung,” bisik batinku.
Menu yang dulu pernah menjadi menu paling memuakkan di sekolahku, namun saat ini menjadi menu favoritku.

“Silakan dimakan, Mbak…,” ucap wanita yang berprofesi sebagai waitress itu sembari menyuguhkan nasi putih dengan lauk ayam bakar dan sepiring cah kangkung hangat yang begitu menggoda.

“O, ya. Thanks ya Mbak..,” balasku manis.

Ikan asin tahu tempe
Hari-hari hoi
Daun ubi sayur kangkung 
Hari-hari hoi…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here