Foto: net

Riausastra.com – Kegiatan apresiasi adalah kegiatan menghargai dan menikmati suatu karya sastra berupa puisi maupun prosa serta karya seni dan budaya. Hal ini diungkapkan oleh Natawidjaja (1982:1) apresiasi adalah penghargaan dan pemahaman atas suatu hasil seni atau budaya.

Ada tujuh tahap mengapresiasi, yaitu: judul, jalan cerita, tokoh, tema, lambang, asimilasi, dan afeksi seni budaya (Natawidjaja, 1982:4). Dari teori di atas, maka akan diapresiasi sebuah puisi persembahan untuk Palestina berikut:

Tuhan Ajari Aku Menabur Pasir 
Karya: Nafi'ah Alma'rab
  
Aku adalah sebaris luka 
Tertinggal di dinding Al-Aqsa
Mungkin kau lupa, darah ini puisi yang terselip
Kubagi-bagikan, agar buana tak lagi bungkam
                 
Ini pelataran yang kujaga
Sepanjang subuh
Saat kau jemput ayah
Dan kau hancurkan sebatang kursi roda
  
Pagi itu menjadi kebiadabanmu
Aku tak luluh
Hidupku peluru
Matiku kembang syuhada
  
Tuhan, ajari aku menabur pasir
Di wajah-wajah binatang Gaza
Biar tertebus duka ini
  
Hari ini ingin kutulis berita
Tentang tujuh luka yang menganga
Mengikis sebilah lebam di mata
Entah kapan Palestina merdeka 

Menikmati sebuah puisi tidak semudah menikmati karya sastra dan karya seni budaya lainnya karena jalan cerita atau narasi yang terbangun di dalam sebuah puisi lebih abstrak. Pada puisi “Tuhan Ajari Aku Menabur Pasir” Karya: Nafiah dapat dinikmati alur cerita yang menggambarkan tentang kecamuk perang di Bumi Palestina yang belum berakhir sampai sekarang. Sedangkan kemerdekaan yang telah lama didambakan oleh warga Palestina atas penjajahan Israel tidak dapat dipastikan. Hal ini ditegaskan pada penggalan puisi berikut:

 Hari ini ingin kutulis berita
 Tentang tujuh luka yang menganga
 Mengikis sebilah lebam di mata
 Entah kapan Palestina merdeka 

Puisi persembahan untuk Palestina di atas diperankan oleh tokoh “aku”. Watak atau karakter yang dimiliki oleh tokoh “aku” pada puisi tersebut tampak pada penggalan puisi berikut:

 Aku adalah sebaris luka 
 Tertinggal di dinding Al-Aqsa (bait 1 baris 1 dan 2)
  
 Ini pelataran yang kujaga
 Sepanjang subuh (bait 2 baris 1 dan 2)
  
 Aku tak luluh
 Hidupku peluru
 Matiku kembang syuhada (bait 3 baris 2,3, dan 4)
  
 Tuhan, ajari aku menabur pasir
 Di wajah-wajah binatang Gaza
 Biar tertebus duka ini (bait 4) 

Dari beberapa penggalan puisi di atas tergambar bahwa tokoh “aku” merupkan sketsa dari suara hati para Muslim Palestina yang merasakan pedihnya kebiadaban dari Kaum Zionis. Tokoh “aku” menyatakan bahwa Bumi Al-Aqsa adalah tanah Islam tempat berdirinya Masjid Al-Aqsa sebagai qiblat pertama umat Islam dan sudah menjadi tanah kelahiran bagi para mujahidin Palestina yang ingin direbut paksa oleh kaum Kafir Yahudi.

Perjuangan rakyat Palestina bukanlah perjuangan biasa. Dengan rasa tangguh, mereka menghadapi serangan Israel laknatullah. Jika Allah berkenan memanjangkan umur mereka, maka hidup mereka tak ubahnya seperti peluru yang siap ditembakkan. Akan tetapi, jika Allah berkehendak mengakhiri kehidupan mereka, maka anugerah tertinggi dengan gelar syuhada akan mereka raih sebagai hadiah atas perjuangan yang mereka korbankan demi membela agama Allah SWT.

Tokoh “aku” ingin mendapatkan sebuah kesempatan untuk memerangi Israel meskipun hanya bersenjatakan pasir. Hal ini melukiskan betapa gigih dan kokohnya keimana yang mereka miliki untuk memperjuangkan hak-hak mereka dan hak-hak seluruh umat Islam di seluruh dunia atas Bumi Palestina.

Selain tokoh “aku”, pada puisi di atas terdapat juga tokoh “kau”. Hal ini terdapat pada penggalan puisi berikut:

Mungkin kau lupa, darah ini puisi yang terselip (bait 1 baris 3)
Saat kau jemput ayah
Dan kau hancurkan sebatang kursi roda (bait 2 baris 3 dan 4)
Pagi itu menjadi kebiadabanmu (bait 3 baris 1)  

Karakter yang dimiliki oleh tokoh “kau” tergambar jelas bahwa Bangsa Israel adalah bangsa syaithani yang lupa akan hakikatnya sebagai hamba Allah dan sebagai manusia biasa. Membunuh, memerkosa, dan menganiaya Muslim Palestina adalah kebahagiaan bagi mereka sehingga darah yang terus-menerus mengalir dari tubuh orang-orang muslim Palestina tak bisa menyadarkan mereka dari keterlupaan yang mereka lakukan sendiri.

Israel menculik dan membunuh ayah dari anak-anak Palestina agar para istri menjadi janda dan anak-anak menjadi yatim. Mereka mengira dengan memisahkan ayah dari anak, istri dari suami, dapat mengurangi populasi warga Palestina. Ternyata tidak karena Allah punya cara dan punya rencana yang lebih indah. Justru tingkat kelahiran meningkat di Palestina.

Puisi “Tuhan Ajari Aku Menabur Pasir” Karya: Nafiah memiliki tema perjuangan rakyat Palestina melawan kebiadaban Israel. Adapun lambang yang menyatakan sifat universal dari tokoh utama “aku” mewakili betapa kokohnya iman para mujahidin Palestina sehingga sifat alamiah ini menjadi teladan bagi muslim di dunia bahkan bagi seluruh masyarakat di dunia.

Nilai-nilai moral, perjuangan, dan didaktis pada puisi ini akan berasimilasi menjadi cermin kehidupan bagi muslim di dunia khususnya, bahwa barang siapa yang menolong agama Allah, maka AAllah akan menolongnya. Selain itu, manusia di dunia harus menyadari bahwa perniagaan terbesar dengan Allah adalah jihad di jalan Allah dan memperoleh ganjaran syuhada sebagai hadiah tertinggi.

Adapun afeksi seni budaya yang ditemukan pada puisi di atas, yaitu adanya kecintaan terhadap karya puisi sebagai produk sastra sebab puisi di atas lahir sebagai kecaman rakyat Palestina dan muslim dari seluruh penjuru dunia yang disuarakan lewat bahasa sastra. Melalui puisi di atas, diharapkan para pembaca mampu tersentuh dan membuka mata hati untuk tetap istiqamah di jalan Allah dan menjadikan jihad sebagai bagian dari kehidupan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here