Foto: net

Hidup ini tak ubahnya seperti serial dalam sinetron televisi. Sutradara sekaligus penulis skenarionya adalah Allah SWT. Sedangkan script dialognya adalah Al-Quran, Sunnah Rasul, dan Ijtihad para ulama. Aktor dan aktrisnya adalah diri kita sendiri. 

Allah SWT sebagai Sang Sutradara telah memberikan gambaran aturan main dalam kitab-Nya dan Sunnah Rasulullah SAW. Namun, Allah dengan senang hati akan memberikan kebebasan kepada kita, aktor dan aktris, untuk memilih peran masing-masing. Maka, akan ada di antara kita yang akan memilih peran antagonis, peran protagonis, serta peran bulat (netral terhadap kebaikan dan keburukan).

Adakalanya, aku memilih peran protagonis dengan modal secuil iman dan setetes kebaikan. Akan tetapi, aku lupa, kalau aku lebih dominan menjadikan diriku sebagai pemeran antagonis. Bahkan, dengan keluguanku dan minimnya ilmuku, aku tak begitu peduli, ternyata aku berperan sebagai tokoh bulat sebab hitam dan putih sama saja bagiku. 

Menjadi seorang aktris duniawi mestilah memenuhi beberapa syarat berikut:

  1. Bepenampilan menarik (cantik, kulit putih, seksi, tinggi semampai, mulus, dan ramping)
  2. Seleksi ketat
  3. Siap memainkan peran sesuai ketentuan sutradara
  4. Terikat kontrak
  5. Dibayar sesuai peran dan lamanya striping
  6. Harus selalu tebar pesona agar reputasi tetap dikenal masyarakat

Sedangkan menjadi aktris dalam skenario Ilahi, semestinya memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. Berpenampilan menarik (tak harus cantik secara fisik, semua kondisi tubuh akan berhak menjadi aktor dan aktris di hadapan Allah)
  2. Silakan seleksi diri masing-masing sebab kita sendiri yang akan menentukan peran kita di hadapan-Nya
  3. Allah SWT memberikan petunjuk syurga dan neraka, kita sendirilah yang berhak menentukan jalan masing-masing
  4. Kontrak tak berbatas waktu, namun bergantung pada jatah hidup masing-masing
  5. Bayarannya luar biasa, diberi oksigen gratis, diberi rezeki meski diminta atau tanpa diminta, diberi nikmat kesehatan gratis, penglihatan dan pendengaran gratis, diberi pasangan hidup untuk menentramkan jiwa, bebas berekspresi di bumi Allah, dll.
  6.  Dikenal dan dikenang oleh orang lain atau tidak sama sekali tidak menjadi jaminan bahwa nama kita Allah sematkan sebagai orang-orang pilihan.

Inilah dunia. Tempatku bernaung saat ini. Meski seringkali aku tergoda menjadi aktris di panggung sandiwara demi ketenaran, tapi aku mulai menyadari bahwa aku benar-benar seorang aktris sungguhan dalam skenario Allah SWT. Betapa aku malu dengan peran yang kupilih selama ini. Di hatiku hanya ada dunia. Padahal aku tahu bahwa dunia ibarat air laut, semakin diminum akan semakin haus. Aku sibuk mendamba pujian. Aku lupa bahwa award sejati terletak pada keridhoan-Nya. 

Maka hari ini, aku ingin berbenah diri. Aku ingin melihat seberapa istimewa aku di hadapan-Nya. Oleh karena itu, akan kulihat seberapa istimewanya Dia di hatiku..

Faghfirli ya Allah…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here