Foto: net

Riausastra.com – Bintang memiliki pendar sendiri. Kelap-kelipnya bertabur menghiasi malam. Cahayanya hanya setitik di kejauhan, namun kesan yang disampaikannya pada penduduk bumi menyimpan kesan yang mendalam. Tak heran jika para pujangga akan terinspirasi membuat syair-syair puitis saat memandang bebintang. Begitu juga pasangan halal yang sedang dilanda cinta. Saat memandang bintang-bintang, bisa-bisa mereka akan berkhayal untuk memetik satu saja, lalu dipersembahkan buat kekasihnya di malam itu.

Setiap kita adalah bintang. Setiap kita memiliki pendar indah sendiri. Masa iya?? Ya, dengan segenap rasa percaya diri, kukatakan bahwa pernyataan di atas benar adanya. Bukankah Allah menciptakan segala sesuatu tidak ada yang sia-sia?

Setiap kita adalah bintang.
Seorang ibu adalah bintang buat anak-anaknya. Sebab, cinta ibu, takkan pernah tergantikan.

Seorang ayah adalah bintang buat anak-anaknya. Sebab, pengorbanan dan perhatian ayah, adalah kunci lahirnya generasi yang berkualitas, percaya diri, serta berimunitas kuat, insya Allah.

Seorang anak adalah bintang bagi orang tuanya. Sebab, kesalihan sang anak adalah amal jariyah buat ibu bapaknya.

Seorang kakak adalah bintang buat adiknya. Demikian halnya adik juga merupakan bintang buat kakaknya. Sebab, kasih sayang yang terbina akan membawa rahmah dalam keluarga.

Seorang guru adalah bintang buat anak didiknya. Sebab, ilmunya akan menjadi pelita di kegelapan.

Anak didik adalah bintang buat gurunya. Sebab, ilmu yang diamalkan kelak akan menjadi tabungan kebaikan yang pahalanya akan mengalir terus-menerus untuk gurunya.

Pemimpin adalah bintang bagi rakyatnya. Sebab, amanahnya seorang pemimpin akan berdampak buat kesejahteraan rakyat dan negerinya.

Demikian juga rakyat. Rakyat adalah bintang buat pemimpinnya. Sebab, kualitas rakyat akan menjadi barometer kesuksesan pemimpinnya.

SETIAP KITA ADALAH BINTANG. PUNYA KEMILAU CAHAYA SENDIRI-SENDIRI DAN MEMBERI KESAN INDAH BUAT ORANG LAIN.


Meskipun setiap kita adalah bintang, jangan sampai lena. Sebab, ada kalanya bintang itu jatuh pada waktunya. Saat jatuh, bintang akan redup, dan tak lagi punya pendar sendiri. Bila waktunya telah tiba, tak seorang pun yang mampu menolak takdir. Seperti malam yang berganti pagi. Maka sirnalah sinar bintang ditelan cahaya mentari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here