Rakyat Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan bertepatan dengan 17 Ramadan. Sebuah anugerah yang Allah titipkan kepada seluruh rakyat Indonesia agar senantiasa merenungi perjalanan panjang dalam merebut RI dari para penjajah.

Sekarang sudah enak, Gaes..
Bulan Ramadan tinggal menyibukkan diri dengan ibadah. Kalau sedang berat-beratnya menahan puasa, ada masjid-masjid ber AC untuk tempat beristirahat. Bahkan ada juga beberapa masjid yang setiap hari menyediakan takjil bagi siapa saja yang ingin berbuka puasa di sana.

Saya jadi teringat saat jadi Mahasiswa USU sepuluh tahun yang lalu, Gaes.. (ternyata diriku sudah tua ya, Gaes ). Bulan Ramadan itu adalah bulan paling santai untuk fokus beribadah, belajar, dan organisasi. Soalnya, ga perlu sibuk memasak untuk persiapan berbuka. Cukup silaturahim dari masjid ke masjid. Bukaan (takjil) tersedia beraneka ragam. Itulah enaknya di Kota Medan. Bahkan di Masjid Raya Kota Medan juga disediakan menu berbuka, yaitu: teh manis, kurma, dan Bubur Sop Anyam yang merupakan makanan khas Kesultanan Deli. Rasanya enak. Disediakan sekitar seribu porsi per hari. Suasananya terasa begitu sakral. 
Ayo, angkat tangan yang dulu sering barengan sama saya… 
Jangan sampai saya tag ya… 
Ga usah malu. Masa lalu kita keren kok. Selain keren, indah, kreatif, efisien, hemat, dan jadi sering reunian 

Nah, kalau kita renungi perjuangan para Mujahidin tahun 1945 itu, masya Allah, apakah kita sanggup untuk berada di barisan perjuangan itu? Bulan puasa, tetap berjuang dengan mengumandangkan takbir, Allahu Akbar!

Hingga detik ini, kegiatan 17-an sering diisi dengan lomba dan permainan rakyat. Tujuannya untuk menyatukan hati dalam kebersamaan, yaitu: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa, meski berbeda rasa.

Pagi tadi, perlombaan demi perlombaan dilaksanakan oleh anak usia PAUD hingga usia SMP. Setelah itu, dilanjutkan oleh anak-anak usia remaja. Mata lomba masih sama dengan tahun-tahun yang lalu, seperti: balap karung, bawa kelereng, tarik tambang, dll. Hanya saja, ada beberapa kesan manis yang ingin saya catat di sini, Gaes.

SETIAP PESERTA LOMBA AKAN MENDAPATKAN HADIAH, MESKIPUN MENANG ATAU KALAH.

Ini merupakan sebuah prestasi bagi panitia karena panitia menyadari pentingnya mengapresiasi setiap perjuangan positif yang dilakukan oleh siapapun. Tanpa mengukur menang atau kalah karena pada hakikatnya setiap manusia itu unik dan punya bakat masing-masing. Siapapun berhak juara dan mendapatkan hadiah. Penting sekali kita tanamkan dalam diri anak-anak kita tentang kalimat ini bahwa “I am special and limited edition”. Agar anak-anak kita menyadari bahwa diri yang Allah ciptakan ini, pasti istimewa. Sebab, Allah tak pernah menciptakan produk gagal.

PESERTA LOMBA TIDAK HANYA ANAK-ANAK, TETAPI JUGA REMAJA, DAN ORANG TUA (PLUS KAKEK DAN NENEK).

Semua umur berkumpul di lapangan samping masjid. Menyaksikan permainan-permainan rakyat dengan penuh suka cita. Saat tiba waktu salat, kegiatan dihentikan dan diisi dengan salat berjamaah. Ketika tiba waktu untuk makan siang, maka para ibu sudah memasak bersama di sekitar lapangan dan dilaksanakan juga acara makan bersama. Masya Allah, sebuah kebersamaan yang sangat mahal, di tengah fokusnya manusia pada kehidupan dunia maya.

REMAJA WAJIB TAMPIL.

Panitianya gabungan, Gaes. Beberapa orang emak bapak, tapi didominasi oleh remaja setempat. Remajanya cakep-cakep, Gaes. Seperti buah mangga yang sedang ranum-ranumnya. Kita dulu pernah gitu juga, Gaes. Cuma waktu teramat cepat berlalu. Hahahah..

Remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada fase ini, remaja akan merasakan masa puberitas. Perubahan hormon pada remaja membuat remaja cenderung sensitif dan mudah sekali tersulut amarah. Agar hormon dalam diri remaja itu tidak terhambat perkembangannya, maka remaja semestinya bergerak aktif. Kegiatan olah raga dan permainan rakyat menjadi solusi yang tepat untuk mengisi kegiatan remaja agar mereka tumbuh menjadi remaja yang terarah dan minim amarah.

Para remaja turut serta bermain di acara tujuh belasan hari ini. Adem sekali melihat pemandangan di lapangan karena para remaja tidak lagi terfokus pada ponsel dan game-game on line yang sedang marak di zaman ini. Alangkah baiknya jika permainan rakyat disemarakkan kembali untuk meminimalisasi tumbuh kembang “generasi menunduk” karena handphone. Selayaknya, setiap RW memiliki lapangan bola dan lapangan bermain ramah anak, ramah remaja, ramah orang tua, ramah lansia, ramah keuangan, dan lingkungan.

Ada satu lagi yang menarik, Gaes..
Ketika anak-anak yang sedang melaksanakan kegiatan lomba, para orang tua yang menggantikan remaja menjadi panitia. Kompak sekali.

Beginilah seharusnya hubungan harmonis antara anak-anak, remaja, dan orang tua. Kedekatan yang tercipta harus lebih ditingkatkan sebagai bukti perhatian para orang tua terhadap remaja dan anak-anak. Kalau sudah kompak begini, saat para orang tua ingin memberi petuah dan nasihat terhadap remaja (kawula muda), insya Allah tidak akan sulit. Kok bisa? Sebab hati sudah saling terikat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here