Foto: net

Tidak semua manusia mengerti segala perasaan
Yang ada di hati kita
Janganlah selalu mengharapkan 
orang lain mengerti akan perasaanmu…

Sepenggal senandung jiwa dari Almaidany mengingatkan kita akan kerdilnya wadah perasaan yang berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan segala rasa. Tentunya rasa itu bernama senang, sedih, suka, tidak suka, rindu, dendam, cinta, dan bla..bla..bla..

Hati yang senantiasa mengharapkan pengertian dari orang lain tentang diri kita. Hati yang terkadang lebih mengutamakan ego. Hati yang lebih sering hampa akan nilai ketulusan.

Manusia dikatakan manusia karena memiliki sisi kemanusiaan yang sangat manusiawi. Lantas, adakah yang lebih peka selain perasaan di hati??? Perasaan yang senantiasa menghadirkan rasa sesuai dengan nuansa yang tertangkap indera. Namun, hal seperti apakah yang lebih menyentuh perasaan(atau hati)?? hal yang unik itu sebut saja dengan “kata”. Ya, kata-katalah yang paling mudah menyentuh perasaan. Meski pepatah juga berpendapat, “Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa yang tahu”. Menurut cabang ilmu Linguistik, kata adalah perpaduan antara fonem (konsonan dan vokal) yang membentuk satu kesatuan dan memiliki makna.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat diucapkan
Kayu pada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Puisi Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono di atas dirangkai lewat kata-kata hingga terbentuk dua bait puisi yang telah memiliki tendensius tersendiri. Diawali dengan kata aku. Lantas berakhir dengan kata tiada. Perpaduan kata-kata di atas tidak akan sia-sia. Sebab ia telah punya makna.

Seorang guru mengatakan pada siswanya.
Guru : “Nak, dalam hidup ini ada dua keadaan yang memiliki kesamaan, tetapi kadang-kadang orang menghasilkan keadaan yang berbeda. Tenaga yang digunakan sama. Waktu yang dihabiskan juga sama. Yang menerima hasil pekerjaan juga sama, tetapi mengapa hasilnya berbeda?”
Siswa:”Tidak mungkin hal itu terjadi, Guru. Mana ada keadaan seperti itu, wahai Guru?” 
Guru :”Ada anakku,lihatlah kebiasaan di masyarakat kita. Buat apa mengucapakan kata-kata yang menyakitkan hati kalau sebenarnya bisa diungkapkan dengan kata-kata yang lemah lembut. Buat apa berpikir buruk kepada seseorang kalau sebenarnya lebih menyenangkan kalau berpikiran baik.
Nak, pamicara iku weh reseping kang para miyarsi
Berbicaralah dengan sesuatu yang menyenangkan pendengar. Begitu anakku.”

Ternyata, kata-kata sangat menentukan respon yang akan kita terima dari komunikan (lawan bicara/pendengar). Alangkah indah dunia ini bila setiap orang mampu menciptakan suasana kedamaiaan lewat kata-kata. Namun, sanggupkah setiap orang menciptakan kedamaian itu lewat untaian kata-kata? Barangkali kita masih perlu berkaca pada cermin nurani masing-masing.

Suatu hari di bulan Desember, saya berangkat dari kampung halaman tercinta menuju Kota Medan yang telah mengokohkan slogan “Bekerja sama dan sama-sama bekerja” pada masa pemerintahan Walikota Medan Abdillah dengan wakilnya, Ramli.

Saat perjalanan, saya berada satu tempat duduk dengan istri seorang Satlantas. Kebetulan saya berada di sebelah kiri beliau, kursi nomor tiga di dalam Taksi Kita jurusan Sidimpuan-Medan. Sedangkan di sebelah kanan beliau duduk seorang bapak yang kelihatan lebih muda sedikit daripada si ibu tadi. Setelah melalui proses perkenalan, akhirnya mereka pun bercerita tentang kondisi rumah tangga masing-masing. Ternyata, mereka sama-sama belum mempunyai keturunan meskipun telah empat tahun menikah. Kesedihan terbersit dari kata-kata mereka. Bahkan si ibu juga mengatakan betapa ia merasa tidak sempurna tanpa keberadaan seorang janin di dalam rahimnya. Ia amat terpukul dengan perkataan saudara-saudaranya, khususnya dari pihak keluarga suaminya.Ia merasa keluarganya kurang menerima kondisi dirinya yang sampai sekarang belum juga hamil.

Tidak jauh berbeda, si bapak juga mengutarakan hal yang sama. Ia merasa teriris bila setiap orang menanyakan keadaan keluarganya. Beliau juga mengatakan bahwa mereka terlalu tega. Kata-kata mereka bagai anak panah yang menancap di ulu hatinya. Padahal, tak akan ada orang yang ingin seperti yang ia alami. Pun dirinya sendiri. Sehingga, demi mengobati luka hatinya, si bapak bercita-cita akan membawa istrinya ke Penang untuk melaksanakan pembuahan di luar janin alias bayi tabung. Ia menganggap cara ini adalah solusi terakhir terhadap permasalahan yang dia alami bersama istrinya setelah berulang kali menjalani terapi dan pengobatan yang tak sedikitpun terlihat tanda-tanda perubahan. Lantas, sejak saat ini ia dan istrinya sudah mulai menabung sampai 150 juta rupiah terkumpul.

Berulang kali kedengar mereka mengatakan “Aku tidak tahan mendengar kata-kata orang…”
Sebegitu dahsyatnyakah pengaruh kata-kata? Seandainya jika kata-kata dapat diganti dengan dolar , barangkali orang akan lebih memilih memberikan dolar daripada harus menerima kata-kata yang menyakitkan. Subhanallah…Sejauh kaki melangkah, sejauh mata memandang, kata-kata yang bagaimanakah yang lebih mendominasi terucap dari lisan kita? Adakah kita telah menancapkan duri kata-kata ke dalam hati orang lain? Lantas, sudahkah kata maaf mengahapus rasa sakit yang pernah ada? Wallohu a’lam bishshawwab.

Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu dan memang bukanlah bahasa yang mengenal perbedaan antara bahasa halus maupun bahasa kasar.Akan tetapi, bahasa Indonesia mempunyai kosa kata yang sederhana, namun indah. Meskipun ada juga yang lumrah dan heboh. Namun, kapankah bahasa yang indah dan bahasa yang lumrah, bahkan bahasa yang heboh dapat digunakan??.

Apapun yang terungkap dari bahasa verbal dan bahasa nonverbal seseorang tergantung suasana hati. Jika hati sedang bahagia, maka kata-kata yang terungkap adalah kata-kata yang indah dan berbunga-bunga. Namun, jika hati sedang kesal atau tidak suka, maka kata-kata yang muncul adalah kata-kata yang heboh. Akan tetapi, bila suassana hati biasa-biasa saja, maka kata-kata yang lahir adalah kata-kata yang lumrah-lumrah saja.

Apapun alasannya, setiap orang yang berbahasa (komunikasi) bertujuan untuk memberi kesan buat komunikannya. Jika kesan positif yang ingin diciptakan, sudah barang tentu kata-kata yang digunakan adalah kata-kata yang indah. Jika kesan yang ingin ditimbulkan adalah kesan yang biasa-biasa saja, maka kata-kata yang digunakan adalah kata-kata yang lumrah. Jika kesan yang ingin dibangun adalah kesan negatif, maka sudah tentu kata-kata yang digunakan adalah kata-kata yang heboh.

Lantas, seperti apakah kata-kata yang indah???
Badai pasti berlalu… kata Ari Lasso dalam lagunya.
Di manakah letak keindahan itu? Kata-kata bisa memberi kesan positif bagi orang lain, ternyata hidup ini tidak akan selalu sulit. Kesan optimisme. Kemudahan akan hadir sesudah kesulitan. Tidak hanya satu kali bahkan dua kali.

“ALLAH YANG MENJADIKAN HIDUP DAN MATI SUPAYA DIA MENGUJI KAMU, SIAPAKAH DI ANTARA KALIAN YANG LEBIH BAIK AMALNYA.” (AL-MULK [67] : 2)

Betapa dahsyatnya energi yang tercipta lewat untaian kata. maka, mulai detik ini berhentilah mengisi memori orang lain dengan kesan yang biasa-biasa saja bahkan kesan yang negatif. Tanamkanlah bunga-bunga kebahagiaan di hati setiap orang lewat untaian kata yang dibangun atas dasar cinta karena Allah swt.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here